Kliping Pengetahuan Umum

Weblog berisi kliping artikel pengetahuan umum yang bermanfaat. Seperti Kesehatan, Makanan, Pendidikan Anak, Pengobatan, Psikologi Populer, Hobi dan lain-lain.

Sunday, November 17, 2002

Seputar Masalah Keguguran

Oleh dr. Lussat Maka

SEORANG ibu muda, Lisa namanya, setelah diperiksa ia positif hamil. Namun, setelah kehamilannya mencapai usia delapan minggu, Lisa mengalami keguguran.
Lisa heran atas kejadian yang baru dialaminya. Ia menyangka kegugurannya diakibatkan oleh senam yang dilakukannya baru-baru ini. Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Oleh karena itu, ia tidak perlu merasa bersalah.

Triwulan pertama
Memang banyak keguguran terjadi pada triwulan pertama kehamilan. Kira-kira 10-15 persen dari kehamilan mengalami keguguran abortus spontan dalam triwulan pertama ini.
Keguguran yang terjadi pada triwulan pertama kehamilan (kematian janin), biasanya terjadi sebelum perdarahan. Lebih dari setengah keguguran yang terjadi di awal kehamilan ini diakibatkan oleh kelainan kromosom janin atau genetik yang menghambat perkembangan janin, atau kelainan ari-ari.
Dapat dikatakan bahwa keadaan semacam ini tidak dapat dipertahankan lagi. Penyebab-penyebab lain dari keguguran di awal kehamilan ialah adanya peradangan pada saluran telur (hal ini jarang terjadi), penyakit-penyakit kronis atau ketidakseimbangan hormon.
Ada ibu-ibu yang mengalami keguguran lebih dari sekali. Keguguran yang terjadi berulang kali mungkin saja terjadi secara kebetulan atau karena adanya kelainan jasmaniah (fisiologis). Bila seorang ibu mengalami keguguran dua atau tiga kali berturut-turut, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan secara khusus.

Triwulan kedua atau ketiga
Keguguran yang terjadi setelah triwulan pertama mungkin sebagai akibat adanya kelainan dalam rahim. Bila seorang ibu sering mengalami keguguran, ia dianjurkan untuk menjalani bermacam-macam pemeriksaan walaupun sebab yang khusus mungkin sekali tidak ditemukan.
Bila penyebabnya berhasil dipastikan, keadaannya mungkin dapat diatasi. Misalnya, ada ibu-ibu yang tidak bisa mempertahankan kehamilannya sampai cukup umur karena leher rahim membuka sebelum waktunya, yang biasanya terjadi pada triwulan kedua atau awal triwulan ketiga. Keadaan seperti ini disebut leher rahim kurang mampu. Biasanya keadaan seperti ini dapat diperbaiki dengan pembedahan.

Disebut ancaman keguguran
Terjadi perdarahan pada kehamilan muda disebut ancaman keguguran. Ada dokter yang mengatakan bahwa perdarahan yang terjadi pada waktu benih masih melekat pada rahim, yaitu kira-kira pada masa haid seharusnya datang merupakan kejadian yang wajar.
Meskipun terjadi perdarahan pada awal kehamilan, masih bisa terjadi bahwa kehamilan tersebut berlanjut dengan normal sampai bayi lahir. Walaupun demikian, kebanyakan dokter menganjurkan pemeriksaan yang lebih teliti untuk mengetahui penyebab lain.
Bila perdarahan tidak disertai kejang-kejang yang hebat dan darah yang keluar tidak banyak, biasanya dokter menganjurkan agar penderita beristirahat sambil berbaring dan tidak melakukan sanggama sampai keadaan normal kembali. Pemeriksaan dengan ultrasonografi juga dapat menemukan penyebab-penyebab lainnya sehingga dapat diperkirakan perkembangan selanjutnya dari kehamilan tersebut.
Namun, seringkali hanya waktu yang dapat menentukan apakah kehamilan itu akan bertahan atau tidak. Sayangnya, masa-masa menunggu dalam ketidaktentuan ini seringkali dirasakan berat oleh pasangan suami-istri tersebut.
Seringkali tidak banyak yang dapat dilakukan untuk menghindari suatu keguguran. Keguguran tidak dapat dihindari lagi bila selaput-selaput yang sudah ada rusak atau bila jalan lahir sudah membuka atau bila jaringan ari-ari dan bakal janin yang keluar.
Memang keguguran merupakan suatu pegalaman yang pahit bagi setiap calon ibu. Keterangan yang tepat mengenai terjadinya keguguran dan tanggapan yang wajar dalam menerima musibah tersebut dapat mengurangi penderitaan mereka yang mengalaminya. Apalagi kalau masih ada kemungkinan untuk hamil lagi.
Lima bulan setelah keguguran, Lisa hamil kembali. Namun, kehamilannya dirahasiakan sampai pertengahan triwulan kedua, yaitu pada waktu ia mulai mengenakan baju hamil. Ia merasa lega karena sudah melampaui triwulan pertama dengan selamat. Dokter pun mengatakan bahwa kemungkinan besar kehamilannya dapat terus berlanjut dengan baik dan normal. Ternyata setelah melampaui masa sembilan bulan ia melahirkan seoarang anak laki-laki yang sehat. (Sumber: Pikiran Rakyat)***

0 Comments:

Post a Comment

<< Home