Kliping Pengetahuan Umum

Weblog berisi kliping artikel pengetahuan umum yang bermanfaat. Seperti Kesehatan, Makanan, Pendidikan Anak, Pengobatan, Psikologi Populer, Hobi dan lain-lain.

Sunday, September 29, 2002

ASI Membuat Bayi Menjadi Pintar

Oleh Kabelan Kunia
(Penulis adalah Asisten Peneliti di PPAU Bioteknologi ITB, peminat masalah kesehatan masyarakat)
Dimuat di Pikiran Rakyat, 29 September 2002

BEBERAPA waktu lalu telah dicanangkan Pekan ASI sedunia. Semangat yang ingin dibagi dari peringatan ini sekurangnya adalah memberikan pemahaman akan pentingnya ASI untuk bayi guna mempersiapkan kehidupan yang akan menjelang.
Betapa tidak, ASI merupakan sumber makanan sekaligus minuman yang pertama dirasakan lidah manusia ketika diturunkan ke dunia fana. Bahkan hampir semua hewan mamalia di muka bumi ini menerima transfer makan dan minum dari induknya melalui penyusuan sebagai bentuk kasih sayang dan tanggung jawab orang tua kepada benih yang telah tersemai.
Sebagai sumber makanan dan minuman pertama manusia, logisnya ASI tidak hanya berperan sebagai sumber energi. Lebih dari itu ASI ternyata memiliki peran sebagai "tameng" yang memagari tubuh dari serangan kuman jahat penebar berbagai penyakit menakutkan pada minggu pertama kelahiran. ASI merupakan sumber makanan dengan gizi optimal dan ideal bagi perkembangan sistem pencernaan bayi sehingga ASI pun berfungsi sebagai zat tumbuh.
Oleh karena itu, bayi merangkak tumbuh dan berkembang. Lebih dari itu, ternyata ASI juga berperan sebagai zat "pintar" yang merangsang otak bayi untuk berkembang lebih baik. Jelasnya, ASI bukan saja membuat bayi jadi kenyang, namun mampu "menciptakan" bayi pintar dan dapat "membentuk" anak menjadi pribadi yang cerdas dan tangguh. Pertanyaannya, kenapa ASI dapat membuat anak menjadi pintar? Pintar dan cerdas senantiasa diasosiasikan dengan otak. Kita tahu otak adalah salah satu organ paling penting dalam tubuh manusia. Otak merupakan tempat berkumpulnya serta tempat diolahnya semua informasi yang didapat dari semua organ dan diterjemahkan dalam bahaya yang hanya dimengerti oleh tubuh itu sendiri. Intinya, untuk mendapatkan anak yang pintar dan ceras, orang tua harus dapat menjamin ketercukupan nutrisi dan gizi yang seimbang.
Dari berbagai riset, ternyata nutrisi dan gizi yang paling baik dan lengkap bagi pertumbuhan dan perkem bangan bayi adalah ASI yang diberikan sekurangnya 6 bulan pertama kelahirannya yang lebih dikenal dengan ASI eksklusif. Para ahli mengemukakan periode sejak terjadinya konsepsi hingga berusia setahun, pertumbuhan otak pada bayi sangat cepat yang dinamai periode lompatan pertumbuhan otak (brain growth sport).
Pada rentang periode ini neuron syaraf pada otak sangat peka dan sangat dipengaruhi kondisi lingkungan. Karenanya, pada periode ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan kecerdasan anak. Berbagai penelitian membuktikan, asam dokosaheksaenoat (DHA) dan asam arakidonat (ARA) yang terkandung dalam ASI menyebabkan anak menjadi lebih pintar dan cerdas. Kenapa DHA dan ARA yang mempengaruhi perkembangan otak? Ternyata di otak, DHA dan ARA inilah yang berperan penting sebagai penyambung fungsi antarsel-sel syaraf. Asam lemak esensial ini pada bayi membantu membangun membransel syaraf dan juga berperan penting terhadap fungsi membran pada photoreceptor yang ada di retina. Pada orang dewasa diperlukan untuk memelihara fungsi otak agak tetap normal.
DHA terbentuk dari proses sintesis biokimia dengan bahan asam alpha linoleat dan berasal dari grup Omega-3, sedang ARA disintesis dari bahan asam linoleat yang termasuk dalam grup Omega-6. Proses pembentukan DHA dan ARA dari precuter masing-masing dibantu oleh kerja enzim desaturase dan elongase yang terdapat pada sistem saraf pusat dan hati.
**
SESUNGGUHNYA, secara normal tubuh mampu menyediakan dan memproduksi DHA dan ARA ini selagi bahan baku berupa asam alfa linolenat dan asam linoleat cukup tersedia. Nah kedua bahan baku inilah yang mesti diimpor dari luar. Pasokan bahan baku ini didapat dari berbagai makanan yang mengandung asam alfa linolenat dan asam linoleat.
Meski DHA dan ARA berperan penting dalam perkembangan otak pada janin dan bayi, namun berdasarkan penelitian, ternyata asam lemak esensial yang dipasok melalui produk makanan berupa susu formula misalnya, belum memberikan hasil yang memuaskan dalam memperbaiki perkembangan otak. Bahkan lembaga Food and Drug Administration Amerika tidak merekomendasikan pemberian tambahan asam lemak tersebut untuk bayi.
Hal ini beralasan mengingat kemampuan manusia mensintesis asam lemak esensial, sehingga bila ditambah lagi dengan pasokan dari luar, maka dimungkinkan terjadi kelebihan asupan DHA dan ARA pada bayi. Sebagai akibatnya, bayi bukannya menjadi cerdas, justru pembentukan prostaglandin dan tromboksan di dalam tubuhnya menjadi terhambat. Kondisi ini menyebabkan kekurangan zat renin yang berfungsi mengontrol ginjal dan pendarahan yang sulit berhenti.
Sesungguhnya sumber DHA dan ARA yang terbaik dipasok melalui cairan plasenta janin saat masih dalam kandungan atau melalui ASI. Karenanya sangat dianjurkan bagi ibu hamil dan menyusui agar mengonsumsi aneka jenis ikan laut yang kaya akan unsur pembentuk asam lemak esensial tersebut.
Berbagai jenis ikan laut yang disarankan untuk dikonsumsi ibu antara lain ikan tuna, salmon, dan teri. Dapat juga mengonsumsi daging dan telur bebek yang mengandung bahan baku asam esensial yang cukup.
Karena manusia --dalam hal ini ibu dan bayinya-- telah diberi kemampuan oleh yang Mahakuasa untuk memproduksi sendiri asam lemak esensial ini, kewajiban kita hanyalah memasok bahan baku yang digunakan dalam proses produksi zat pintar tersebut. Ibu diberi bahan baku berupa asam alfa linolenat dan asam linoleat, sedang bayi diberi hasil produksinya lewat saluran "resmi" berupa ASI. Para ahli menyarankan lebih baik ibu dijejali dengan konsumsi ikan laut yang kaya asam lemak esensial daripada memaksa kehendak dengan menggenjot konsumsi susu formula yang kaya DHA dan ARA ke dalam mulut bayi.
Demikianlah dari hasil berbagai penelitian diketahui, bayi yang memperoleh ASI dengan cukup cenderung memiliki kemampuan penglihatan dan memiliki kecerdasan yang lebih baik dibandingkan bayi yang hanya diberi makan susu formula meski mengandung kedua asam lemak esensial tersebut. Jadi, tidak cukup alasan bagi para ibu untuk tidak memberikan ASI kepada bayinya, bilamana mengharapkan sang anak tumbuh dengan cerdas dan tangguh. ***

0 Comments:

Post a Comment

<< Home