Kliping Pengetahuan Umum

Weblog berisi kliping artikel pengetahuan umum yang bermanfaat. Seperti Kesehatan, Makanan, Pendidikan Anak, Pengobatan, Psikologi Populer, Hobi dan lain-lain.

Sunday, January 26, 2003

Perhatian Keluarga menangani Pasien Menahun

Oleh Yeni

SIAPAPUN tak berkeinginan dirinya sakit. Namun, kondisi seseorang mungkin membuatnya terbaring sakit. Bila sesaat dan segera pulih, alhamdulillah tidaklah masalah, berarti kesehatannya memungkinkan ia melakukan beragam aktivitas. Hidupnya kembali bisa melakukan setiap hal sesuai prioritas keinginan.
Akan tetapi, bila sebaliknya yang terjadi, artinya seseorang itu sakit berkelanjutan, kronis, dan bahkan menahun, yang dibutuhkan adalah perhatian orang lain disamping keyakinan sembuh dari si penderita.
Tentunya pengobatan adalah usaha pertama. Usaha itu membuat penderita diyakinkan untuk segera sembuh dan percaya akan kesembuhannya. Yang dibutuhkan bukan semata-mata kesiapan material, tetapi mental spiritual, baik untuk si sakit maupun keluarganya.
Dalam kondisi sakit berkepanjangan, penderita biasanya frustasi. Sifat-sifat demikian ditandai dengan banyaknya mengeluh. Keluhannya itu memiliki dua kemungkinan sebab yang berasal dari sakit fisik itu sendiri atau psikis.
Yang pertama, membutuhkan pengobatan medis dan malah mengorbankan alternatif, tentu saja secara intensif. Yang kedua membutuhkan pengobatan psikis, suatu cara memahami dan merespons persoalan.
Si penderita akan merasa dirinya terasing dan sendirian atau pada kasus tertentu merasa terbuang. Mengingat yang mendominasi adalah perasaan, maka yang dibutuhkan adalah pendekatan yang memahami perasaan sakitnya. Gejala ini ditandai dengan banyaknya termenung dan melamun, di samping keluhan yang tak berkesudahan itu sendiri.
Bila persoalan itu ditanggapi dengan argumentasi (pemikiran), yang terjadi adalah silang pendapat, debat kusir atau hal-hal yang tidak menguntungkan kedua belah pihak.
Pasien merasa dikomentari, padahal dirinya tidak membutuhkan komentar. Yang diperlukan adalah seorang pendengar, yang mengangguk atau bersifat responsif sebelumnya, menggugah motivasinya. Artinya bahasa hati lebih diperlukan karena menyangkut kepekaan perasaan.
Tanpa itu, pasien akan berada pada kondisi yang tak berarti, ia memikirkan sakit fisiknya yang dirasa belum sembuh-sembuh dan ia juga merasa disepelekan orang-orang terdekatnya.
Sakit perasaan sesungguhnya membuat pasien melarikan diri dari masalah. Keinginan itu dianggap terpenuhi bila orang terdekatnya memenuhi keinginan pelariannya. Mungkin saja yang dibutuhkan adalah menghiburkan diri, relaksasi mental yang memuatnya tenang. Bahkan lebih banyak dengan bantuan agama yang penuh spiritualitas dan religiusitas yang ditopang dengan ayat-ayat kontekstual tentang sakit, sembuh/sehat, usaha sembuh, dll.
Yang dibutuhkan adalah gambaran hidup optimistis yang membuat penderita menerima sakit sebagai persoalan manusiawi, bisa dan dapat diatasi. Optimisme memacu motivasinya disugesti. Melalui keyakinan bahwa sakit itu bisa dan pasti ada obatnya, penderita akan memandang kenyataan sakit yang dialami sebagai sesuatu yang enteng dan ringan.
Kalau penderita diberi gambaran pesimis, katakanlah kematian, penderita akan menganggap hidupnya tak berarti, begitu pun kesembuhannya kelak menjadi percuma. Seringkali penderita diberi saran-saran yang membuatnya diperlakukan sebagai anak kecil.
Perasaan penderita yang sensitif, maka akan semakin sensitif menghadapi pelecehan seperti itu. Cara-cara positif itu sesungguhnya tinggal dikelola dengan seni berkomunikasi, seni yang melihat siapa yang diajak berkomunikasi sebagai prioritas, tentunya menyangkut pemahaman usia, karakter atau bahkan kualitas penderitaannya.
Pasien adalah manusia biasa, nasibnya kebetulan tidak seberuntung manusia sehat. Mungkin kehadirannya membebani orang-orang rumah, tapi percayalah dari situ justru orang-orang rumah bisa belajar banyak, bagaimana menangani ”beban” lain dan memerhatikan kasih sayang orang yang tak berdaya. Sekaligus bisa bercermin, bagai-mana menghindari dan menyi-kapi masalah bila kelak kebetulan kita menerimanya. Keikhlasan menjadi kata kunci penanganan. Tanpa itu, pasien dan orang-orang rumah akan ”menderita” lahir batin seumur-umur. (Sumber: Pikiran Rakyat)***

0 Comments:

Post a Comment

<< Home